Pencarian  
adminwebTuesday, 28 May 2013 07:58 Opini

INDAHNYA KEBERSAMAAN

 


Oleh : Letkol Kav R.Tavip Budiarto, S.Ip

”... Kebersamaan bukan kata tapi jiwa terasa dalam dada seindah purnama, kebersamaan bukan curahan tapi jawaban syarat makna akan keajaiban dan kekuatan, kebersamaan bukan mata tapi telinga siap mendengar kadang tak seksama, kebersamaan bukan kaki tapi tangan selalu merangkul dalam kehangatan, kebersamaan bukan hujan tapi pelangi mengindahkan pribadi ketika turunnya air mata, kebersamaan takkan selamanya, akan ada akhir dalam ceritanya... terimalah... kenanglah... jadikan yang terindah...”

 

Assalamu’alaikum Wr. Wb. ..... Para pembaca yang budiman, sebuah kata yang sudah sangat sering sekali kita dengar dan ucapkan dalam kehidupan kita sehari-hari.  Bahkan kata dasar kebersamaan yaitu "bersama", pernah dijadikan  salah satu icon yang pernah kita dengar dari pimpinan kita,     tidak tahu juga sekarang apa masih ada kebersamaan yang dijadikan icon itu dalam kegiatan  saat ini. Maksudnya kebersamaan antara Komandan dengan anak buah, Pimpinan dengan bawahan, untuk mengayomi dan "momong" agar dapat melaksanakan tugas penuh dengan semangat dan dedikasi yang menghasilkan kesejahteraan.

           Kalau mau kita renungkan lebih dalam lagi, seberapa jauhkah pengimplementasian "kebersamaan" dalam kehidupan kita sehari-hari. Waktu kita melihat ke masyarakat luas, akan kita lihat bahwa di sana sini banyak sekali hal-hal yang dilaksanakan secara bersama-sama. Contoh klasik yang biasa diajarkan sewaktu kita duduk di bangku sekolah dasar adalah kerja bakti/gotong royong.
Pengertian waktu itu, gotong royong merupakan kegiatan yang dilaksanakan oleh banyak orang dalam rangka menyelesaikan suatu masalah misalnya gotong royong membersihkan lingkungan, gotong royong membangun sarana umum.  Bahkan kalau dicermati lebih mendalam, korupsi yang dilakukan oleh para pemegang kekuasaan di negeri ini pun menganut prinsip dasar gotong royong atau dalam bahasa agama secara bercanda bisa disebut “ korupsi secara berjamaah

          Tidak setiap kumpulan orang yang bersama-sama melakukan suatu kegiatan memiliki yang namanya kebersamaan. Lihat saja orang-orang yang berkumpul dalam suatu meja judi. Meski secara fisik mereka ini "bersama", tetapi secara kejiwaan hampir tak ada rasa kebersamaan di antara mereka karena masing-masing berusaha supaya menang dan hasilnya buat diri sendiri. Jadi, tak setiap yang bersama-sama bisa dikatakan memiliki semangat kebersamaan. Tak jarang selesai berjudi, terjadi baku hantam di antara mereka karena ada pihak yang tak puas dengan hasil yang dicapai lebih jauh lagi, bahkan ketika secara fisik tak berada dalam satu tempatpun, tetapi mereka sama-sama menuju ke satu tujuan yang sama maka justru inilah yang bisa disebut sebagai kebersamaan yang sesungguhnya.

Pembangunan suatu negara bisa kita ambil sebagai contohnya, yaitu dalam melaksanakan pembangunan di berbagai bidang kehidupan tiap warga negara bisa berperan aktif dalam lingkungannya masing-masing sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya  meskipun mereka melakukan di daerahnya sendiri-sendiri.  Jadi, apa yang sudah kita lakukan dalam rangka membangun negeri ini?

 Kebersamaan menurut ajaran Islam.

Mensitir dari berbagai tulisan tentang kebersamaan menurut Islam bahwa manusia dalam hidupnya tidak bisa lepas dari orang lain. Bergaul menjadi fitrah dan kebutuhan dasar manusia.   Untuk memenuhi kebutuhannya, manusia harus menjalin hubungan dengan sesamanya.   Kehadiran orang lain adalah suatu keharusan karena manusia tidak bisa hidup sendiri.

           Menyadari hal diatas, dalam menjalin hubungan persahabatan dengan orang lain, manusia harus menjunjung tinggi prinsip simbiosis mutualisme (hubungan yang saling menguntungkan). Dan hubungan yang semata-mata hanya untuk memperoleh ridho Allah SWT. Bukan hanya untuk tujuan tetentu yang hanya menguntungkan diri sendiri. Karena bila demikian, ikatan tersebut tidakakan kekal. Persahabatan itu akan hilang seiring tercapainya tujuan yang diinginkannya. Sebagaimana perkataan Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, “Sesungguhnya siapa saja yang senang kepadamu karena adanya keinginan, maka ia akan berpaling darimu jika telah tercapai keinginannya”.            Nabi Muhammad SAW pernah mengibaratkan ikatan persahabatan antar dua orang muslim dengan kedua belah tangan. Beliau tidak memakai perumpamaan lain karena jalinan hubungan antar kedua tangan sangat cocok untuk dijadikan ibarat dalam menjalani hubungan sesama manusia. Kita bisa melihat bagaimana kedua belah tangan saling membantu satu sama lain dalam usaha menggapai tujuan, keduanya bersatu padu dalam mewujudkan tujuan, keduanya melebur menjadi satu untuk mencapai tujuan yang sama.

 Demikian juga jalinan persahabatan manusia akan lebih indah seandainya dilandasi dengan semangat kerjasama sebagaimana kedua belah tangan. Mereka senantiasa saling bahu-membahu untuk mencapai sesuatu secara bersama-sama. Menanggung bersama setiap kesedihan yang menimpa. Dan setiap kebahagiaan akan selalu dinikmati bersama. Dalam situasi dan kondisi apapun jalinan kerjasama terus berlanjut. Saling membantu saat dibutuhkan walau tanpa diminta serta saling menjaga rahasia dan aib. Bersabda, “Paling utamanya amal baik ialah memberi kegembiraan kepada saudaramu yang beriman”. (HR. Ibnu Abi Dunya).     Selain itu, seseorang dalam bergaul juga dituntut untuk selalu menampakkan wajah ceria.    Mengucapkan salam jika bertemu, memaafkan bila terjadi kekeliruan, saling memberi nasihat. Sama-sama mendo’akan karena do’a seseorang untuk temannya mudah terkabulkan. (HR. Muslim).   Dan yang paling sulit adalah saling mengorbankan harta benda yang dimilki.    Imam Al-Ghazaali membagi 3 (tiga) jenis sikap manusia dalam memberikan pengorbanan terhadap orang lain. Pertama, memposisikan teman sebagaimana hamba sahaya atau budak. Dalam arti selalu memenuhi kebutuhannya meskipun tanpa diminta. Kedua, memposisikannya seperti diri sendiri. Sehingga apa yang dimilki rela untuk digunakan bersama. Ketiga, tingkatan tertinggi dalam pengorbanan tertinggi dalam pengorbanan yaitu selalu mengutamakan kepentingannya dari pada kepentingan sendiri.

Kebersamaan TNI dengan Rakyat.

Paradigma Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang sudah berubah akan semakin memantapkan kebersamaan antara TNI dengan rakyat.    TNI  harus kuat, kokoh, handal, dan konsisten dalam memenuhi kewajibannya sebagai komponen utama pertahanan negara di darat. TNI harus senantiasa manunggal dengan rakyat. Sejarah telah membuktikan bahwa kebersamaan TNI dengan rakyat merupakan satu kekuatan sinergi yang telah berhasil mengatasi berbagai ancaman, gangguan maupun hambatan yang dihadapi bangsa.  Negara akan tetap berdiri dengan kokoh bila seluruh komponen bangsa bersatu padu dan bersinergi.  Tugas TNI khususnya TNI AD ke depan, sejalan dengan dinamika perubahan situasi pada lingkup nasional, regional maupun global, serta tantangan yang dihadapi bangsa saat ini, akan semakin berat dan kompleks.   Tantangan ini menuntut kesiapan operasional satuan, profesionalitas satuan, dan solidaritas satuan yang tinggi serta dukungan seluruh komponen bangsa.

Kebersamaan, harmonisasi dan sinergitas antara TNI dan rakyat harus tetap dijaga dan dipertahankan. TNI berasal dari rakyat dan bertugas bukan hanya sebagai aparatur pertahanan dan keamanan demi tegakkan NKRI, tapi juga sudah menjadi bagian dari rakyat. Begitu juga dengan kebudayaan peninggalan nenek moyang bangsa Indonesia, yaitu gotong royong. Ini harus dilestarikan dan direalisasikan secara berkelanjutan.  Suatu contoh:   karena Tentara juga hidup diantara masyarakat sekitarnya maka setiap institusi Militer dimanapun berada dan bertugas tetap selalu menjaga hubungan dengan masyarakat sekelilingnya, apalagi Satuan Komando Kewilayahan (Satkowil) sebagai ujung tombak TNI AD selalu berperan aktif  dan baik-baik dengan Rakyat.  Kita bukanlah satu-satunya yang ada di muka bumi ini, maka dari itu sudah sepatutnya berbuat baik dan menghargai orang lain, seperti implementasikan suatu kegiatan dalam meringankan beban masyarakat yaitu Karya bhakti dan Bhakti sosial diantaranya dalam bentuk rehab rumah tidak layak huni, menjaga kebersihan lingkungan,donor darah.

 

Dari contoh diatas masih banyak yang dilakukan TNI untuk masyarakat seperti TMMD, anjang sana, mengatasi korban bencana alam, penghijauan dan kegiatan sosial kemanusiaan yang lainnya, sedangkan tujuan yang paling utama terwujudnya kemanunggalan TNI dengan rakyat adalah memupuk rasa kebersamaan dengan rakyat sehingga rakyat dengan TNI tetap erat “ Bentuk kemanunggalan kebersamaan antara TNI dan rakyat ”  tidak mungkin akan terpisahkan, karena kebersamaan itu sudah tercipta sejak dahulu kala, TNI peduli dengan rakyat  ( TNI mencintai dan dicintai Rakyat ).

 Kebersamaan di Antara Kita.

Pembaca yang budiman, kita tahu bahwa Tentara juga Manusia .... adalah makluk sosial yang tak pernah lepas dari lingkungan masyarakat, Tuhan menciptakan manusia beraneka ragam rupa maupun sifatnya, begitupun tingkat sosialnya ada yang kuat ada yang lemah, ada yang kaya, ada pula yang miskin, ada komandan ya tentunya ada bawahan meskipun begitu dikehidupan manusia masih terjalin rasa kebersamaan.    Karena orang kaya tidak bisa disebut kaya tanpa adanya orang miskin, orang kuat tidak bisa disebut kuat tanpa adanya orang lemah, begitu pula dengan kehidupan Tentara seorang komandan tidak akan bisa berjalan sendiri tanpa anak buah dan tentunya juga akan pensiun dan kembali ditengah-tengah masyarakat. Oleh karena itu manusia tidak lepas dari orang lain, setiap manusia pasti memerlukan bantuan dari orang lain, tanpa adanya orang lain kita tidak dapat melakukan apa-apa.   Dengan demikian mari kita jaga kebersamaan, rasa persaudaraan antar umat manusia, antara pimpinan dan bawahan, komandan dan anak buah karena pada dasarnya kita adalah bersaudara.

Membina kedekatan dan kebersamaan antara atasan dengan anggotanya, antara anggota dengan bawahannya, mampu menopang tumbuhnya rasa kebersamaan, saling pengertian dan akan terjalin hubungan emosional antara pemimpin dengan yang dipimpin.

Komandan/pimpinan dituntut untuk selalu dekat, mampu  berkomunikasi dengan anggota, serta  mengenal betul sifat dan karakter anak buahnya. “Harapan seperti ini berlaku juga bagi segenap anggota/anak buah, harus dekat dan kenal baik dengan atasannya”.   Sedangkan Kondisi yang baik antara atasan dan bawahan seperti itu akan menjadi penopang tumbuhnya rasa kebersamaan, saling pengertian dan akan terjalin hubungan emosional antara pemimpin dengan yang dipimpin. Kemudian, kemampuan unsur pimpinan memelihara hubungan baik dan kedekatan dengan anggotanya, merupakan kunci pokok suksesnya kepemimpinan lapangan yang pada akhirnya bermuara pada soliditas satuan. Semua itu dilakukan untuk mendukung pencapaian dan keberhasilan dalam pelaksanaan tugas.

Keberhasilan suatu tugas sangat ditentukan oleh sejauhmana pimpinan mampu menghargai, memotivasi, merangkul, menggerakkan dan mengayomi bawahannya, dengan demikian kemampuan menjalin komunikasi dan kemampuan menggerakkan bawahan adalah salah satu tolok ukur untuk menilai kepemimpinan seseorang.

Pada kesempatan ini penulis  mengajak untuk mereka ulang atau membuka teori-teori lama yang dulu pernah kita pelajari tentang kepemimpinan yang mungkin sudah terlupakan, ada sebuah teori dari berbagai sumber mengatakan bahwa kita semua pasti pernah melihat pelangi.    Bahkan pada saat sekolah dasar guru kita mengajarkan cara menghapal warna-warnanya dengan “jembatan keledai” untuk mengingat. Mijikuhibiniu; merah, jingga, kuning, hijau, biru,nila dan ungu.

            Dalam bekerja, gejala optik dan meteorologi yang menghasilkan spektrum cahaya ini memberikan pembelajaran tentang togetherness dan sebuah tim kerja.  Bekerja dalam kebersamaan akan jauh lebih baik daripada bekerja sendiri-sendiri.
Warna merah tidak akan terlihat merah jika tidak ada warna pelangi lainnya.  Dia akan menyilaukan dan menyakitkan mata saat dipandang.   Begitu juga warna yang lain, bagaimana di setiap lini dalam unit kerja, kita bagaikan warna-warna pelangi tersebut. Bagaimana kita mampu bersanding dengan harmonis, saling melengkapi, sehingga harmonisasi itu menjadi sangat indah dilihat dan hal itu sangatlah sulit untuk dilakukan.

Kita masih harus banyak belajar untuk menjadi pemimpin yang baik, pemimpin yang mampu salah satunya untuk membimbing anak buah.   Ada beberapa hal yang penting untuk dipertimbangkan agar kita mampu untuk membimbing, melatih, memotivasi dan menilai kinerja para bawahan dengan baik dan benar yaitu 1) Jadilah pendengar yang baik, Carl Rogers, seorang pakar di bidang psikologi, pernah berkata bahwa penghalang yang terbesar untuk melakukan komunikasi pribadi adalah ketidaksanggupan seseorang untuk mendengarkan dengan baik, dengan penuh pengertian dan perhatian kepada orang lain. Jika kita diberi tugas untuk membimbing dan melatih bawahan maka hal ini merupakan salah satu hal terpenting yang harus diingat. Ketika kita sedang berbicara dengan bawahan jagalah agar tidak terlalu banyak berbicara, melainkan lebih banyak mendengarkan keluhan dan  masukan dari bawahan kita meskipun demikian mendengarkan tidaklah selalu berarti bahwa kita percaya terhadap segala yang kita dengar. Tentu saja untuk dapat menjadi pendengar yang baik dibutuhkan kesabaran dan kerendahan hati.  2) Kenali Pekerjaan yang dilakukan, kita sering melakukan kesalahan dalam menginterpretasi dan menilai hasil kerja seseorang sebagai akibat dari suatu pandangan dan pengetahuan yang dangkal sekali tentang pekerjaan orang tersebut. Akibatnya tidak sedikit bawahan yang menjadi frustrasi dan bahkan tidak "respect" terhadap kita karena mereka menilai kita tidak tahu apa pekerjaan bawahan sebenarnya (padahal kita seharusnya tahu).  3)  Kenali Bawahan kita, sebagai atasan, kita harus mengetahui kesanggupan dan bakat-bakat anak buah kita dan menolong mereka agar menggunakan kemampuannya untuk disalurkan dalam pekerjaan. Kita juga dituntut untuk mendorong usaha-usaha perbaikan diri bawahan, mengerti kebutuhan dan keinginan mereka, dsb. Sebagai contoh: kita harus dapat membedakan apakah bawahan kita lebih tertarik pada kesempatan dan tantangan karier atau pada materi seperti uang atau lebih pada status. Jika kita dapat mengindentifikasi hal ini maka akan lebih mudah untuk mengarahkan dan memotivasi bawahan. 4) Kenali Perlombaan yang Ingin Kita Lakukan, lakukan sebagai pejabat baru dan masih berada dalam semangat yang menyala-nyala untuk mendorong dan memotivasi bawahan, kita mungkin terus memacu bawahan untuk melakukan sesuatu, yang sesungguhnya tidak terlalu signifikan. Hal tersebut merupakan suatu hal yang wajar karena kita mungkin masih dalam tahap ingin menunjukkan jati diri sebagai atasan yang pantas menduduki jabatan tersebut.  5)  Berikan kesempatan, kesalahan-kesalahan yang dilakukan bawahan dalam bekerja jarang sekali berakibat fatal.   Artinya dari kesekian banyak kesalahan yang mungkin dilakukan masih terdapat peluang untuk diperbaiki dan diberikan kesempatan untuk berubah. Oleh karena itu, janganlah semata-mata memberikan hukuman kepada bawahan yang kebetulan melakukan kesalahan, tapi tolonglah dia dan berikan kesempatan kedua untuk memperbaiki dirinya. 6)  Patuhi Batas-Batas Peran Anda, sebagai atasan kita harus menyadari benar kemampuan kita, kita tidak dapat mengubah semua hal sesuai dengan keinginan kita. Kita harus menyadari bahwa kita bukanlah dokter bedah otak, yang dapat mengoperasi setiap orang sesuka hati, juga bukanlah pendeta/kiai bagi bawahan dan juga bukan ahli psikologi yang dapat menyembuhkan berbagai masalah psikologisnya. Ingatlah bahwasanya ada tiga jalan yang mendasar untuk mengubah seseorang: yaitu tobat keagamaan, psikoterapi dan operasi otak. Kita adalah seorang pemimpin, janganlah memaksakan diri untuk melakukan ketiga hal tersebut. Salah-salah kita akan menjadi korbannya.

Seperti sebuah pelangi, kesuksesan dapat kita raih di saat-saat tertentu, tidak setiap waktu. Seperti kalimat bijak Thomas A. Edison, penemu dan pendiri Edison Light Electric Company bahwa “Jenius adalah 1 % inspirasi dan 99 % keringat.     Tidak ada yang dapat menggantikan kerja keras, keberuntungan adalah sesuatu yang terjadi ketika kesempatan bertemu dengan kesiapan.   Dan kesempatan menurut Imam Ali datang bagai awan berlalu, maka pergunakanlah selagi ia nampak di hadapanmu.    

Dari uraian diatas sudah menjadi tradisi dan kegiatan rutin yang dilakukan oleh pimpinan kita dalam mewujudkan suatu kebersamaan antara pimpinan dengan bawahan dan  antara rekan sekerja begitu juga dengan keluarga Prajurit dan PNS dilingkungan tugas dimanapun kita berada,  contoh kepedulian pimpinan kepada bawahan dan keluarga di wujudkan dalam kegiatan silahturahim, kegiatan Olah Raga bersama, kegiatan keagamaan dan kegiatan lainnya,  seperti kegiatan nyata dilapangan diantaranya :Kunjungan Pimpinan (Wakasad) dan Pangdam V/Brw,Olah Raga Bersama,

Dari tulisan ini dapat penulis simpulkan bahwa manusia tidak lepas dari manusia yang lainnya, saling ketergantungan dan saling membutuhkan dengan demikian perlunya menjalin hubungan sehingga akan tercipta suatu kebersamaan yang hakiki baik kita khususnya TNI AD dengan rakyat maupun diantara kita antara pimpinan dengan bawahan dan keluarga maupun antar rekan sejawat.

Pembaca yang budiman,  demikian sekelumit dari penulis semoga ada nilai manfaatnya tapi bukan  mudarotnya dan Insya Allah akan ketemu lagi pada tulisan berikutnya tetap pada pembahasan yang lebih tajam dan terpercaya ....... Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

 


Berita Lain :