Pencarian  
adminwebTuesday, 28 May 2013 08:12 Opini

KEKERASAN DAN EKSESNYA TERHADAP KOMUNITAS


Oleh :  Letkol Inf. Drs. Heriyadi. M.Si

Kejahatan dengan kekerasan, kerusuhan massa, konflik komunal dan kekerasan horizontal adalah sejumlah potensi disharmoni yang mesti diwaspadai dewasa ini. Intensitas peristiwa kekerasan yang tidak manusiawi itu cenderung meningkat dalam beberapa tahun terakhir ini. Maka wajar bila terus muncul kekhawatiran tentang masa depan komunitas berperadaban karena teralienasi oleh perilaku bar-bar yang kian meluas. Kejahatan-kejahatan dengan kekerasan termasuk keberingasan massa terus saja terjadi bahkan merebak seperti virus yang sulit dibendung. 

 

Penduduk di berbagai wilayah Indonesia telah menyumbang sejumlah fakta sosial yang menunjukkan betapa nilai kebersamaan dan cita rasa kemanusiaan itu semakin rendah mutunya. Kerusuhan-kerusuhan yang diwarnai dengan keberingasan massa yang meningkat tajam beberapa tahun terakhir ini, merupakan indikasi penting dari adanya masalah krusial dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Belum lagi perilaku janggal lain yang tak mau peduli hukum, tak peduli lingkungan bahkan tak mau tau kepentingan orang lain.     

Ada hal yang mesti dicatat bahwa aksi-aksi massa destruktif kini meluas dalam beragam bentuk. Bila sebelumnya aksi kekerasan lebih didominasi oleh kasus kerusuhan berlatar belakang suku, ras, agama dan antar golongan, maka kini muncul aksi massa dalam varian beragam seperti aksi massa dari kalangan buruh, konflik lahan yang melibatkan massa beringas dan tidak ketinggalan konflik massa selama dan pasca Pemilukada diberbagai wilayah tanah air. Akibatnya, Indonesia kini seperti tiada hari tanpa kerusuhan.

 Mengherankan bahwa keberutalan massa serta kejahatan-kejahatan dengan kekerasan makin sering terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia dewasa ini.   Gejala sosial ini jelas sebuah indikasi negatif terhadap masa depan persatuan dan peradaban yang berbasis kemanusiaan.  Terdapat keanehan tingkah laku yang sulit dipahami ketika individu atau kelompok mudah mengamuk, mudah menyiksa dan mengamuk hanya karena faktor pemicu yang sepele, bisa jadi malah tidak terkait langsung dengan dirinya. Dalam banyak hal, konflik massa justru sering dipicu oleh faktor gengsi yang tidak masuk akal atau oleh sentimen primordial dan religius yang sebenarnya tidak mereka hayati dengan utuh.  

 Beberapa literatur ilmu sosial mengindikasikan hal ini sebagai penyakit kekosongan kemanusiaan (lose of soul). Ketika kekerasan ilegal atau brutalisme terjadi dimana-mana dengan motif apapun juga, dan ketika orang senang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, tidak peduli lagi pada peradaban dan norma sosial maka disitulah penyakit kekosongan  kemanusiaan menampakkan wajahnya yang asli.  Hanya karena masalah sepele, cekcok mulut, merasa dihina, dendam pribadi, isu-isu sesat dan hal-hal kecil lainnya, sudah dapat menjadi pemicu terjadinya kekerasan. Kekerasan itu bahkan bisa bersifat kolektif yang berskala besar, melibatkan ratusan bahkan ribuan orang dengan membawa korban harta dan nyawa yang banyak. Ada keanehan ketika hal seperti itu terjadi, manusia seperti tidak terkontrol. Iya menjadi liar, brutal dan sulit dikendalikan.   

 Dalam situasi penyakit kekosongan kemanusiaan yang sangat kronis, beberapa elit dan tokoh dalam komunitas tertentu biasanya tidak cukup berbuat nyata untuk mengatasi masalah. Dalam beberapa hal iya justru ikut menjadi bagian dari masalah dengan memprovokasi atau bahkan memberikan pembelaan dan perlindungan kepada pelaku kekerasan. Iya sibuk mencela dan mencari kambing hitam atau dengan cara membangun “image” lain dimedia massa. Tidaklah mengherankan bahwa dalam komunitas seperti ini, Pemerintah dan penegak hukum bahkan tokoh masyarakat yang suka bersuara keras melawan kekerasan, tidak jarang mendapatkan perlawanan bahkan cercaan dari para pelaku dan tokoh-tokohnya yang suka memancing di air keruh. 

 

Bahaya kekerasan yang meluas.

 Bagaimanapun juga peristiwa kekerasan dan kebrutalan massa yang cenderung meluas harus dieliminasi sesegera mungkin, sebab kejahatan-kejahatan sekecil apapun yang membawa pengaruh pada kekacauan publik dan terjadi secara terus menerus akan menimbulkan dampak yang akumulatif. Kecemasan dan rasa takut sebagai akibat dari faktor keamanan dan rasa aman yang tidak terjamin akan membawa dampak sosial, ekonomi dan budaya yang amat luas. Lebih dari itu, banyak petualang yang gemar memanfaatkan situasi seperti itu untuk melempar propaganda seolah pemerintah dan seluruh aparatnya telah gagal memberi perlindungan dan rasa aman bagi segenap warganya.  

 Dalam situasi yang kacau, setiap individu akan merespons atau bertindak berdasarkan kecemasan/kepentingan mereka sendiri terhadap masalah-masalah disekitarnya. Bagi rakyat yang tak berdaya akan meninggalkan area-area yang dianggap rawan, menghindari daerah tertentu karena takut mendapat masalah. Sebagian bereaksi dengan membangun pagar rumah yang tinggi-tinggi atau gembok besar dipintu rumahnya. Para pemilik toko tidak percaya diri dengan hanya satu lapis pintu tetapi juga diperkuat dengan pintu besi serta terali besi dijendela-jendela mereka. Namun sebaliknya, bagi para petualang yang punya jiwa suka berkelahi, gemar mengerahkan massa anarchis, sudah tentu akan mendapatkan konsesi-konsesi khusus dari situasi yang runyam itu.

 Di daerah-daerah yang rawan konflik kekerasan, banyak orang menjadi takut keluar rumah pada jam-jam produktif apalagi ketika hari mulai gelap. Para pelaku kekerasan yang menyasar di sejumlah tempat, memberi sinyal kepada warga lain akan adanya ancaman sehingga memilih untuk tidak melakukan transaksi ekonomi dan interaksi sosial diberbagai kesempatan. Waktu-waktu produktif  untuk transaksi sosial maupun ekonomi pada akhirnya berlalu begitu saja. Kemiskinan dan keterbelakangan terjadi dengan mudah karena warga terpaksa membatasi aktivitas dan interaksi normal mereka. Dunia investasi dan sektor ekonomi informalpun menjadi lesu karena khawatir dengan resiko kerugian yang tinggi.

 Tindakan pasif (diam) adalah pilihan paling gampang bagi kebanyakan warga yang tak mau mengambil resiko. Namun, ketika  mereka menarik diri secara fisik dari sistem sosial, sesungguhnya mereka juga melepaskan diri dari peran untuk saling membantu menjaga kehidupan bersama dalam komunitasnya tersebut.  Dalam suatu sistem sosial yang rusak/lemah, setiap orang memilih bersikap apatis, membiarkan kejahatan menimpa para tetangga karena takut menjadi korban sia-sia. Ini memicu ekses hilangnya kepedulian sosial.  Ekses-ekses sosial seperti ini mudah melahirkan implikasi-implikasi politis yang sulit dideteksi.  Para petualang politik yang lihai, akan memanfaatkan momentum, menjadikan keterpurukan rakyat sebagai isu dalam propaganda hitam,  untuk  membangun kebencian terstruktur dikalangan akar rumput.

             Implikasi-implikasi sosial, ekonomi dan politik seperti ini harus dipahami dengan jelas dan diantisipasi sesegera mungkin. Penulis tidak mengatakan bahwa perlu penambahan aparat keamanan dalam jumlah besar untuk membersihkan segala bentuk kekacauan.  Kerjasama yang kuat antara Pemerintah, Polisi, Tentara dan rakyatlah yang harus diperkuat untuk mencegah dan menangani setiap potensi permasalahan.  Pengisolasian aparat negara dari rakyat yang seharusnya mereka layani atau lindungi tidak memberi keuntungan, karena rakyat menjadi tertutup sebagai akibat dari minimnya kontak reguler antara aparat negara dengan rakyat. Karena itu, aparat negara tidak hanya dituntut untuk lebih profesional dan dekat dengan rakyat tetapi juga harus dicegah setiap upaya pembusukan citra aparat dimata masyarakat.

 Dalam situasi konflik yang cenderung meluas, kontak reguler antara aparat negara dengan rakyat sangatlah penting. Aparat harus mampu memberi rasa aman dan perlindungan bagi rakyat sekaligus membangun kerjasama dan kebersamaan dengan mayoritas rakyat yang umumnya bersikap diam agar berani melawan kekerasan dan kejahatan lainnya.  Kepastian hukum, keadilan hukum dan jaminan rasa aman adalah sinyal positif yang dapat merangsang kuatnya pencegahan kejahatan yang berbasis komunitas.   

       Pada sisi yang lain, para tokoh atau pemimpin masyarakat, kiranya perlu segera menggelorakan kembali gerakan “kesantunan” sosial melalui pernyataan dan keteladanan. Para pemimpin harus menjadi bagian penting dalam membangun kembali sistem sosial yang koyak akibat konflik dan kekerasan.  Sejalan dengan hal itu, statemen-statemen elit yang memberi sinyal bahwa kekerasan massa atau aksi-aksi massa destruktif terjadi karena ekses dari upaya aparat menghalagi perjuangan rakyat kecil untuk mendapatkan keadilan, cenderung tidak mendidik dan tidak menguntungkan upaya bersama mengatasi anarchisme. Opini seperti itu mengesankan “pembenaran”  yang amat menyesatkan, sehingga setiap orang merasa berhak melakukan aksi kekerasan atas nama hak dan kebebasan berekspresi. 

           Akhirnya, sangatlah penting bagi kita semua untuk membangun kembali kebersamaan guna mengatasi maraknya kasus-kasus kekerasan massa, yang merusak tatanan dan mengacaukan sistem sosial secara keseluruhan.  Tidak ada alasan yang masuk akal, yang dapat memberi “pembenaran” bagi kejahatan, terlebih kejahatan dengan kekerasan, apapun bentuk dan motifnya. Kekosongan kemanusiaan harus diisi dengan keyakinan akan nilai-nilai kemanusiaan yang berbasis pada agama, norma sosial, aturan hukum dan kebudayaan-kebudayaan yang berperadaban manusiawi. Kita tidak pantas terus berada dalam kungkungan peradaban kekerasan yang primitif dan yang tidak memberi jaminan akan kemajuan kehidupan.

  Wassalam!!!

                     

Penulis adalah

Komandan Kodim 0809/Kediri


Berita Lain :