Pencarian  
adminwebTuesday, 28 May 2013 08:27 Opini

PERISTIWA CEBONGAN DAN PATRIOTISME

 


Oleh :  Mayor Caj Lukas Wahyu Dewanta

Ketika kasus cebongan terjadi pada 23 Maret 2013 dan diumumkan oleh team investigasi  bahwa pelaku penyerangan adalah anggota TNI dari baret merah beberapa waktu yang lalu, maka mulailah bermunculan beberapa tanggapan masyarakat yang  memperlihatkan pro dan kontra terhadap insiden itu. Bahkan dalam jejaring twitter  terlihat adanya persetujuan sosial  atas penyerangan itu karena premanisme merupakan bahaya bersama dan oleh karenanya perlu di tindak dengan tegas.  Namun juga beberapa masyarakat menyesalkan peristiwa itu terjadi, karena bagaimanapun tindakan penyerangan terhadap orang yang memiliki hak hidup meskipun divonis bersalah tetap harus dijaga dan dihormati.   Kasus cebongan adalah peristiwa yang memiliki kans besar  untuk segera mendapatkan disposisi moral yang jelas dan tegas terutama bagi kehidupan prajurit  yang  dapat dikatakan bagian dari komponen masyarakat yang memiliki licence to kill .

             Dalam pandangan organisasi fungsional, prajurit tidak dapat dilepaskan dari fungsi kekerasan  . Lisence to kill yang melekat  dalam tugasnya di satu sisi , dan  hidup dalam prinsip disiplin yang keras dan tegas di sisi yang lain memberikan penegasan yang otoritatif atas perilaku dalam kehidupannya. Sebagaimana kaul yang diucapkan dalam sumpah prajurit dan kode etiknya, seorang prajurit dalam keadaan apapun sesungguhnya harus mengedepankan keutamaan prajurit  yakni  hidup dalam kejujuran, kebenaran dan keadilan .  Sebagai seorang patriot  yang dididik dalam tempaan  mental yang berat, serta militansi yang berbeda dengan masyarakat sipil, maka  tugas utama menjaga dan melindungi bangsa dan negara dari berbagai ancaman  menjadi imperatif yang kental dalam pelaksanaan tugasnya. Insting kejiwaan yang protektif, defensif dan ofensif pada situasi tertentu sangat menonjol dalam keseluruhan kehidupan prajurit.  Terkadang tampak tidak proporsional pada implementasi dilapangan. Oleh sebab itu memahami kehidupan prajurit ditengah tekanan berbagai persoalan hidup yang secara personal dihadapinya, menjadi bagian yang tidak terpisahkan demi memelihara kondisi mentalnya tetap teguh dan tidak rapuh sekalipun menghadapi dinamika persoalan yang menghimpitnya..  

Licence to kill sebagaimana eksistensinya demi  mempertahankan kedaulatan, keselamatan bangsa dan negara menjadi otoritas yang dimilikinya sekaligus prioritas yang tidak dapat ditawar-tawar. Namun persoalanya adalah keabsahan licence to kill dalam praktek kehidupan  tidak semudah implementasinya, setidaknya didasarkan pada beberapa syarat:

Pertama , Just war. Keabsahan seorang prajurit untuk melakukan tindak yang dikategorikan sejenis kekerasan/ membunuh lawan dalam suatu peperangan oleh karena konsekwensi logis  sebagai  Kekuatan pertahanan negara    yang memiliki legitimasi untuk berhadapan  dengan musuh dalam situasi perang yang diproklamirkan oleh pemerintah, maka prajurit mendapatkan keabsahanya melakukan penyerangan dalam  pertempuran, dan  terlebih obyek pantas untuk diserang, karena  negara memerlukan perlindungan dari berbagai ancaman.

Kedua, Death Penalty, atinya keabsahan prajurit dalam menggunakan otoritasnya mengangkat senjata dan memuntahkan peluru bagi seseorang yang dianggap bersalah/ berbahaya dan mengganggu kesejahteraan umum. Pada praktek ini prajurit biasanya dapat dilibatkan dalam eksekusi mati bagi terdakwa yang dijatuhi hukuman mati oleh penegak hukum/ Negara.

Ketiga, Legitimate self defance . artinya otoritas dan keabsahan untuk melakukan pembelaan diri dari ancaman yang membahayakan dirinya pada saat yang ada. Pada situasi ini, nyaris tidak ada pilihan  kecuali menyelamatkan diri dengan melakukan pembelaan yang secukupnya, itupun  pelaksanaanya digunakan secara seimbang.

          Peristiwa cebongan secara aspek hukum memang merupakan suatu tindakan yang dapat dikategorikan melawan hukum , karena tidak dapat dibenarkan secara norma hukum.   Menghilangkan nyawa orang lain dengan alasan yang tidak cukup untuk dapat melakukanya dapat dikatakan bersalah.  Jiwa korsa tidak dapat dibenarkan secara hukum untuk menghilangkan nyawa orang lain atau melakukan kekerasan, karena sangat berbeda jika dilakukan di medan perang ketika menghadapi musuh.

Disposisi moral untuk dapat melakukan tindakan kekerasan dalam bentuk apapun harus dipertimbangkan tujuan dan  cara yang dilakukan. Sebagaimana peristiwa penyerangan cebongan kendatipun tujuannya baik/ jiwa korsa namun dilakukan dengan cara yang tidak baik tetap tidak dapat dikatakan benar secara moral maupun secar hukum. Pada prinsip moral bahwa segala tujuan baik harus diikuti dengan cara yang baik dan itulah kebenaran. Sebaliknya    melakukan cara yang baik tanpa diikuti tujuan yang baik dapat dianggap salah secara moral.

Patriotisme

Semangat patriotisme yang sejak awal menjadi keutamaan hidup prajurit harusnya berkembang dalam moralitasnya. Semangat rela berkorban demi menjaga kedaulatan dan keselamatan bangsa menjadi tugas utama sebagaimana konstitusi memerintahkan. Segala tindakan baik bersifat pribadi maupun organisasi harus bernilai dan bertujuan untuk mewujudkan semangat patriotisme.  Tantangan prajurit sesungguhnya bukan ancaman musuh dari luar negara ini, juga bukan dari dalam negara seperti separatisme, premanisme tetapi juga aneka kecongkaan corps yang terkadang berlebihan dalam menghayatinya.  Dalam banyak peristiwa di tanah air yang memperlihatkan penyimpangan tindak disiplin yang dilakukan prajurit bermuara dari persepsi yang keliru dalam mengagungkan semangat esprit de corps. Maka menjadi pertimbangan bagi kita semua untuk menempatkan semangat corps dalam bingkai yang benar dan tepat demi keagungan misi dan visi organisasi.

Tantangan bersama mengubah keadaan

Kehidupan adalah anugerah Tuhan, dan setiap orang wajib menjaga kehidupan yang diberikan olehNYA dan tidak seorangpun boleh merenggutnya kecuali sang pemilik kehidupan. Dalam keadaan perang sekalipun seorang prajurit wajib menjaga hidupnya dari musuh demi keselamatan atas hadiah Tuhan.  Mencintai kehidupan  merupakan alasan mulia dan luhur . Demikian juga visi Negara terkait dengan keberadaan pertahanan negara tidak lain juga untuk melindungi bangsa dan negara dari ancaman atas kehidupan .   Ketika negara memanggilnya dalam mengemban tugas mempertahankan bangsa dan negaranya dari ancaman bahaya, maka kerelaan prajurit dibutuhkan untuk berkorban dan termasuk mati karena alasan itu., Patriotisme menjadi landasan, alasan serta semangat yang harus dimilikinya. Anugerah sebagai kusuma bangsa adalah hadiah yang diberikan jika harus gugur di medan tugas. Prajurit bisa juga salah atau khilaf dalam menjalankan tugasnya, tetapi tetap diperlukan keberadaanya dalam masyarakat guna menjamin kehidupan yang aman, damai, tenteram dan sejahtera sebagaimana harapan universal masyarakat dunia.   Hidup menjadi prajurit memang tidaklah gampang,  bahkan meskipun tampaknya dipenuhi sikap kedisiplinan, namun pada saat yang berbeda jatuh dalam ketidak selarasan . Keberadaannya terkadang dirindukan oleh masyarkat , tetapi juga terlihat menakutkan lebih-lebih ketika melakukan aneka kekerasan. Tetapi mengakui kesalahan demi kesalahan merupakan keberanian untuk jujur dengan keadaan. Mari menjadi prajurit yang hanya mengemban tugas negara untuk menjaga rakyatnya, dan bukan untuk yang lainya.

 

Penulis : Kasibinarohkath Bintaldam V/ Brw.


Berita Lain :