Pencarian  
adminwebTuesday, 28 May 2013 08:33 Opini

KEJUTAN-KEJUTAN MASA DEPAN

 


Oleh : Letkol Inf Drs. Heriyadi. MSi.

              Perubahan Sosial (Social Change) adalah sebuah keniscayaan. Perubahan akan terjadi sepanjang waktu dengan segala eksesnya yang menguntungkan atau merugikan.  Perubahan seringkali dirasakan berlangsung cepat bahkan sangat cepat melebihi kesiapan sebagian umat manusia untuk menyesuaikan diri. Itulah sebabnya banyak orang yang “terkejut” karena suatu fenomena baru terjadi dengan tiba-tiba, berbeda secara radikal dengan apa yang menurut mereka “semestinya” terwujud.

Itulah yang nampak tatkala gaya hidup berubah drastis, budaya baru merasuk dengan cepat, nilai (value) yang sudah lama mapan tiba-tiba tergusur oleh nilai baru, dan tekhnologi seperti mampu menyulap dunia dengan seketika. Semuanya serba baru, sehingga ada banyak fakta yang dirasakan aneh atau janggal. Banyak contoh menarik mengenai gejala sosial seperti ini. Misalnya, orang tua yang mulai gerah, merasa aneh dan jengah, menyaksikan putra-putrinya yang tampak asyik bersenda gurau melalui Internet atau Hp, tidak peduli sekalipun ayah atau ibunya berlalu di depan matanya.  Sebagian mengalami social shock ketika menyaksikan sejumlah anak mudah yang teriak-teriak di jalanan menghujat para pemimpin dan tokoh, yang semula dianggap tidak sopan.

Dalam banyak hal, perubahan radikal terhadap suatu fenomena alam dan lingkungan sosial, merupakan pemicu dominan terhadap merebaknya penyakit keterkejutan masa depan.   Ada beragam gejala yang nampak dari penyakit ini diantaranya adalah gejala stress, sikap agresif atau sebaliknya memilih apatis karena tak kuasa melawan perubahan yang terjadi di depan mata, mungkin justru digerakkan atau diikuti oleh keluarga-keluarga dekat mereka sendiri.

Karena itulah, kajian tentang perubahan sosial yang kini tengah terjadi secara intens di dalam masyarakat kita menjadi penting dilakukan secara terus menerus.  Dalam konteks ini, hampir semua pakar ilmu-ilmu sosial sepakat bahwa perubahan sosial (social change) membawa sejumlah peluang sekaligus tantangan atau ancaman. Imam Prasojo menulis bahwa perubahan sosial selalu dikaitkan antara dunia lama yang mulai ditinggalkan dan dunia baru yang hendak dituju.

Penulis mempersepsikan bahwa dunia lama yang dimaksud erat kaitannya dengan nilai budaya yang sangat berakar kepada ajaran agama dan tradisi. Sedangkan dunia baru yang hendak dituju mau tidak mau bersentuhan dengan nilai-nilai universal yang bisa jadi mengandung sejumlah perbedaan dengan kultur lokal. Disorientasi budaya akan terjadi manakala penetrasi budaya universal tidak terjadi secara alamiah dan tidak cukup mengadopsi nilai budaya lokal.

Itulah yang terjadi manakala dunia baru di Indonesia mulai bersentuhan dengan era demokrasi yang datang dengan konsep yang serba pragmatis dan egaliter. Dimana letak persoalannya? Seperti biasanya bahwa pada masa-masa transisi kearah perubahan, selalu terjadi kecenderungan dimana dunia lama mulai ditinggalkan tetapi dunia baru yang hendak dituju belum disiapkan. Akibatnya, bangsa kita tidak hanya gagal mencapai dunia baru yang menjanjikan, malah sebaliknya membawa bangsa ini berada dalam ambang batas yang abu-abu. Itulah yang terjadi dalam praktek berdemokrasi kita yang tengah mengalami Pseudo yang kronis. Pseudo demokrasi adalah kondisi praktek berdemokrasi yang  tidak terukur, dimana para elit dan massanya, seolah-olah bertindak demokratis padahal kenyataannya tidaklah demokratis. 

Kiranya dapat dikatakan bahwa bangsa Indonesia memang tengah dihadapkan pada beragam ujian di tengah arus perubahan yang amat kencang lajunya ini.  Upaya menjaga nilai-nilai (value) yang sudah mengakar dalam masyarakat Indonesia pada umumnya adalah sebuah pertarungan yang tidak mudah, melawan penetrasi budaya asing.  Kemajuan tekhnologi komunikasi dan semakin mudahnya akses informasi, akan semakin mempertinggi intensitas penetrasi nilai-nilai universal dan budaya asing terhadap budaya lokal dan gaya hidup.

            Alfin Toffler telah lama memprediksi bakal datangnya suatu masa dimana manusia dihadapkan pada persoalan-persoalan rumit sebagai akibat dari perubahan yang tidak terkendali dengan baik. Toffler menulis tentang penyakit sosial yang diakibatkan oleh cepatnya perubahan. Kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi serta cepatnya penetrasi budaya asing, menyebabkan manusia sekonyong-konyong telah berada di masa depan beserta pola budaya yang tidak lagi mengenal kepermanenan (permanency).

            Amatlah memprihatinkan bahwa sebagian masyarakat kita tampaknya telah menderita penyakit disorientasi budaya, tidak dapat lagi kembali kebudaya lamanya tetapi juga tidak mampu mereduksi dengan baik nilai budaya baru ke dalam tradisi kulturalnya. Ajaran agama mulai tidak dipedulikan, budaya malu mulai ditinggalkan dan tindakan asusila mulai dipertontokan secara terbuka di tempat-tempat keramaian. Celakanya, sebagian masyarakat menjadi tersentak kaget lalu melakukan tindakan-tindakan perlawanan dengan cara-cara yang tidak populer.

Toffler jauh-jauh hari telah mengingatkan perlunya dijaga keseimbangan antara irama waktu dari perubahan lingkungan dan irama waktu dari kemampuan manusia menanggapinya. Menurut Toffler, penyakit kejutan masa depan disebakan oleh makin meningkatnya disorientasi antara kedua irama tersebut. Perubahan seringkali dirasakan lebih cepat, jauh melebihi kecepatan manusia menerima perubahan itu sendiri. Belum hilang rasa kaget atas munculnya gaya hidup tertentu, tiba-tiba muncul lagi gaya hidup yang berbeda.

Hal itu berarti, perubahan sosial harus diupayakan agar kita mampu menggapai kehidupan yang lebih baik tetapi tidak tercabut dari akarnya sendiri. Itulah sebabnya seorang Filsuf yang bernama Schumacer meminta kita untuk tetap waspada terhadap kemajuan jaman, kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Menurut Schumacher, tekhnologi tidak mengenal prinsip membatasi diri, dari segi besaran, kecepatan atau kekerasannya sendiri. Tekhnologi tidak memiliki kemampuan mencari keseimbangan sendiri, menyesuaikan diri dan membersihkan diri. Artinya, tekhnologi tidak pernah mau peduli dengan apapun ekses sosial yang terjadi dari keberadaannya untuk kepentingan umat manusia. Dalam konteks itu, ketika kita berbicara tentang manusia, budaya dan perubahan sosial, kita tidak boleh semata-mata melihatnya seperti persoalan matematika sebagaimana yang berlaku dalam dunia tekhnologi modern. Perubahan sosial memerlukan proses yang rumit, rasional dan harus melewati kalkulasi sosial yang matang.

Perubahan sosial yang kita butuhkan adalah perubahan kearah yang memberi jaminan sosial (cost social) yang menguntungkan rakyat dan bangsa secara keseluruhan. Dalam hal ini, kita memerlukan oppressive controle yang lebih menjamin keseimbangan kemajuan jaman dan daya tangkap sebagian besar rakyat, guna menghindari kesengsaraan sosial. Kita memerlukan perubahan yang terencana, terkontrol dan berdaya adaptif tinggi. Kita juga membutuhkan kebijaksanaan tentang kriteria pertahanan sosial dan kriteria ketahanan personal sehingga diperoleh sistem sosial dan SDM yang tidak hanya mampu menghindari bencana, melainkan juga mampu menemukan kemungkinan-kemungkinan hari esok yang lebih baik.

Untuk semua itu, peran tokoh agama, budayawan dan pemimpin-pemimpin masyarakat adalah hal yang tidak boleh dipinggirkan khususnya dalam membina umat agar memiliki daya tahan pribadi terhadap penetrasi budaya yang tidak berakar pada nilai dasar yang diyakini. Bangsa ini juga harus segera melakukan reformasi akhlak, reformasi perilaku dengan kembali ke jatidirinya yang khas sebagaimana yang tercermin dalam Pancasila dan UUD 1945. Pancasila harus menjadi katalisator budaya sehingga jelas mana yang perlu disemai dan mana yang mesti diabaikan. Kita harus  yakin dengan menerapkan kebijakan publik yang sadar budaya, sadar agama dan sadar sosial, kita bisa menggapai masa depan Indonesia yang lebih baik.

           

Penulis,

Dandim 0809/ Kediri


Berita Lain :