Pencarian  
adminwebThursday, 26 February 2015 08:00 Opini

SINERGITAS PERAN PERGURUAN TINGGI DAN TNI AD (SATKOWIL) DALAM MENGHADAPI PROXY WAR

 

 

         Indonesia sebagai bangsa yang berada di tengah-tengah pe
          Perkembangan dunia, tidak terlepas dari pengaruh perkembangan global dan regional. Dinamika politik ekonomi, sosial dan keamanan yang terjadi di kawasan, ikut berpengaruh terhadap perkembangan sosial politik dan keamanan yang terjadi di Indonesia.Isu keamanan domestik yang timbul  pada   dekade  terakhir  ini,  tidak terlepas dari kontribusi faktor-faktor eksternal, baik langsung maupun  tidak  langsung.    Selain  faktor  eksternal, terdapat pula sejumlah faktor internal yang berpotensi mengganggu stabilitas keamanan nasional. Faktor-faktor tersebut antara lain, dampak heterogenitas suku bangsa Indonesia, situasi ekonomi yang menyebabkan beban hidup semakin berat, serta faktor politik dan sosial. Akumulasi faktor eksternal dan internal tersebut kemudian muncul dalam berbagai bentuk ancaman dan gangguan terhadap keamanan nasional, dan pada skala yang luas dapat mengganggu stabilitas kawasan.Disamping itu perkembangan strategi perang secara global juga telah mengalami transformasi, yang semakin hari menjadi semakin nyata mengancam kedaulatan NKRI, yang lebih dikenal sebagai strategi “Proxy War”. Beberapa Negara didunia sudah banyak yang mengalami dampak dari strategi proxy war tersebut, salah satu contoh adalah Negara Irak yang sampai saat ini masih dalam kondisi “Instabilitas”. Proxy War secara umum dapat didefinisikan sebuah strategi perang yang dilakukan oleh non state actor atau state actor melalui perantara atau pihak ketiga, strategi ini menyasar Negara sasaran melalui berbagai macam dimensi (multi dimensional) kehidupan manusia.Oleh Karena itu Indonesia sebagai salah satu Negara yang sangat “kaya raya” sangat mungkin menjadi sasaran empuk The Proxy War.

        Untuk mengatasi berbagai ancaman sebagai bagian dari strategi Proxy War tersebut, bangsa Indonesia secara umum harus memiliki ketahanan nasional yang tangguh yang dibangun oleh semua komponen bangsa kedalam satu tujuan guna mempertahankan kedaulatan Bangsa dan Negara Republik Indonesia. Ketahanan Nasional bukan hanya menjadi tanggung jawab TNI sebagai Komponen Utama dalam system pertahanan Nasional saja tapi perlu didukung oleh komponen bangsa lainnya termasuk kalangan Perguruan Tinggi. Ketika bergulirnya Reformasi 1998 sampai saat ini, ketahanan nasional bangsa Indonesia mengalami situasi pasang surut, termasuk di dalamnya hubungan TNI-Mahasiswa, sehingga memberikan celah potensi kehancuran bangsa. Dapat dilihat bahwa momentum ini merupakan awal masing-masing pihak semakin menarik diri untuk menjalankan tugas sesuai dengan ego sektoral semata, sehingga upaya sinergitas untuk bersama-sama mewujudkan ketahanan Nasional dalam mengawal kedaulatan Negara menjadi semakin jauh. 

         Sesuai dengan tupoksinya masing-masing bahwa, Perguruan Tinggi memiliki tugas untuk mendidik dan menciptakan mahasiswa/i sebagai  generasi penerus bangsa yang memiliki intelegensia tinggi dan sebagai individu yang siap melaksanakan pengabdian kepada masyarakat. Sedangkan TNI AD sebagai bagian integral yang tidak terpisahkan dari TNI merupakan komponen utama dalam bidang pertahanan yang memiliki tugas pokok sebagai mana diatur dalam UU RI no 3 tahun 2002 dan UU RI No. 34 tahun 2004, dengan melaksanakan pemberdayaan wilayah pertahanan di darat melalui berbagai kegiatan Binter oleh Satkowil. Oleh karena itu perlu adanya upaya untuk merajut kembali sinergitas antara TNI-AD dan kalangan Perguruan Tinggi untuk menciptakan generasi penerus bangsa yang memiliki pribadi tangguh (pemuda/di) yaitu pribadi yang yang sukar dikalahkan, kokoh kuat, tabah dan tahan menderita. Dalam pribadi-pribadi yang tangguh terdapat antara lain keuletan dan kejuangan, sehingga dapat mengatasi segala macam tantangan-ancaman-hambatan-gangguan (AGHT) yang disiapkan dan dibentuk secara berkelanjutan pada setiap generasi. 

        Mahasiswa adalah warga masyarakat kampus, dan atau Perguruan Tinggi merupakan satuan atau lingkungan. Apabila setiap mahasiswa di lingkungan kampus telah menjadi pribadi mahasiswa yang tangguh, maka akan terwujud ketahanan lingkungan (kampus). Bila di suatu daerah ada beberapa Perguruan Tinggi, dengan masing-masing memiliki ketahanan kampus, maka akan tercipta atau terwujud ketahaanan daerah. Bila di setiap daerah mempunyai ketahanan daerah, akan terwujud ketahanan Nasional. Sinergitas peran antara Perguruan Tinggi dan TNI AD (Satkowil) ini penting dilakukan, hal ini menjadikan momentum strategis untuk menghadapi perkembangan situasi global saat ini yang sudah melanda Negara kita baik pengaruh global, regional maupun Nasional. Pengaruh Global diantaranya adanya global warning, Polisi Dinia  (AS),  Hak  Azasi  Manusia,  terorisme, Konflik Negara, Krisis Energi, aliran agama dan lain-lain. Pengaruh regional ditandai dengan adanya gangguan keamanan perbatasan, klaim terhadap laut cina selatan, perdagangan bebas, tindakan-tindakan yang memprovkasi masyarakat dan konflik-konflik internal dan lain-lainnya.Pengaruh Nasional adanya  Proxy War yaitu perang dimana salah satu pihak menggunakan pihak ketiga/kelompok lain untuk berperang melalui berbagai aspek (IPOLEKSOSBUD) dan aspek lainnya, diantaranya sparatis bersenjata, aksi-aksi radikal (ISIS), terorisme, konflik kepentingan politik, ekonomi, sosial budaya dan lain-lainnya. Kerjasama/sinergitas antara Perguruan Tinggi dengan TNI AD (Satkowil) sangat mendukung terhadap keberhasilan pembangunan nasional. Perguruan Tinggi sebagai pengabdi masyarakat diharapkan mampu memberI contoh teladan kepada masyarakat, mempunyai karakter disiplin dan mental serta membantu stabilitas keamanan.  Sedangkan untuk Satkowil sebagai alat pertahanan negara juga senantiasa memberi contoh teladan dalam tampilan tugas sehari-hari, menyiapkan SDM komponen bangsa guna Perang Semesta dan turut serta dalam penanaman disiplin, militansi kebangsaan dan cinta tanah air. Kerjasama yang baik ini dapat disusun dengan program terpadu dengan tidak mengganggu tugas pokok masing-masing, dengan memanfaatkan momentum, ruang dan waktu yang ada untuk saling merajut kebersamaan. Pada dasarnya antara Perguruan Tinggi dan TNI AD (Satkowil) mempunyai celah keterkaitan tugas, yaitu sama-sama dalam pembinaan dan pengabdian kepada masyarakat. Dengan demikian kegiatan ini diharapkan dapat dijadikan sebagai wahana dalam  menambah ikatan yang kokoh dan kuat, sebagai pemikir dan pejuang selalu bergandengan tangan, ikut bertanggung jawab terhadap kedaulatan negara. 

         Dengan pertimbangan kondisi tersebut diatas, perlunya sinergitas TNI dengan Perguruan Tinggi dalam membangun bangsa Indonesia guna menghadapi Proxy War. Leason learned dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia semenjak perjuangan merebut kemerdekaan sampai dengan Proklamasi 17-08-1945, maka keberhasilan tersebut akan terwujud manakala terjalin kerjasama dengan semua komponen bangsa. Dengan demikian sesuai doktrin kebangsaan kita yang lebih “cinta damai dan kemerdekaan”, maka sangatlah tepat bila sinergitas Perguruan Tinggi dan TNI AD (Satkowil) ini direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari.  Peranan Perguruan tinggi sebagai penyiap dan pendidik generasi muda akan melahirkan intelektual-intelektual yang nantinya menjadi pemimpin bangsa dimasa mendatang diharapkan tidak hanya mampu memberikan kemahiran ilmu profesi semata, tetapi harus mampu pula membangun karakter, disiplin dan mental mahasiswa sehingga nantinya mampu menjadi generasi yang berkualitas, berkarakter dan memiliki jiwa dan semangat juang dan berperan aktif dalam pembangunan bangsa Indonesia serta mampu menjaga keutuhan bangsa dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.  Peran TNI sebagai alat pertahanan Negara dalam situasi damai menyiapkan sumberdaya manusia sebagai kompartemen pendukung dalam Sistem Pertahanan Semesta dengan  kegiatan-kegiatan penanaman disiplin, militansi kebangsaan dan cinta tanah air kepada semua elemen masyarakat termasuk didalamnya mahasiswa. Sehingga diantara keduanya terdapat celah keterkaitan kegiatan dalam turut serta mengabdi, menanamkan daya tangkal dan mensejahterakan masyarakat.

         Dalam implementasinya sinergitas peran Perguruan Tinggi dan TNI AD (Satkowil) dapat dilaksanakan dengan menyusun program terpadu yang tidak mengganggu tugas pokok masing-masing. Hal yang dapat dilakukan diantaranya : dengan diadakannya pelatihan menwa, pelatihan kedisiplinan dan karakter building, pelatihan dasar kemiliteran dan lain-lain. Sedangkan dari pihak mahasiswa dapat memberikan pencerahan kepada TNI AD utamanya tentang ilmu public relation, sosio kemasyarakatan, study wilayah, ilmu hukum, ilmu pemerintahan dan lain-lain. Disamping hal tersebut, juga dapat dibuat program aksi terpadu yang dalam pelaksanaan turun bersama di lapangan, seperti misalnya : karya bakti, donor darah, buta aksara, pertanian, pengobatan massal dan kegiatan sosial lainnya yang bersifat bantuan kesejahteraan masyarakat. Sehingga terwujud interaksi dari dua arah yang sinergi dan saling menguntungkan dalam menambah dan memantapkan kepentingan tugas pokok masing-masing. Dari sinkronisasi program tersebut akan terwujud keteladanan, ikatan kokoh kuat, sebagai pemikir dan pejuang, selalu bergandengan tangan serta ikut bertanggung jawab terhadap kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

          Demikian tulisan singkat upaya untuk menciptakan situasi kodisi yang tangguh dalam menghadapi berbagai strategi Proxy War melalui Sinergitas Peran Perguruan Tinggi dan TNI AD (Satkowil), harapan dimasa mendatang ikatan kerjasama TNI AD dan Perguruan Tinggi dapat terus dikembangkan & berkesinambungan.

 

                                                                                          Malang,  18 Februari 2015
                                                                                Penulis

 

 

Totok Imam Santoso, S.I.P., S.Sos., M.Tr (Han

Kolonel Arm NRP 32745


Berita Lain :